Lomba 17 Agustus 2021
17 Agustus 2021

Panitia Lomba 17 Agustus

Deskripsi Kegiatan

Dua tahun pandemi tidak bisa memadamkan semangat 17-an. Ketika banyak perayaan terpaksa dikecilkan atau bahkan ditiadakan, SABANUSA memilih untuk tetap hadir — dengan protokol kesehatan yang ketat, namun dengan semangat kemerdekaan yang tidak sedikit pun berkurang. Hari Kemerdekaan RI ke-76 di RW 03 Desa Cikalong menjadi bukti bahwa gotong royong dan keceriaan tidak bisa dikunci oleh situasi apapun.

Cerita Lengkap

Jauh sebelum tanggal 17 tiba, rapat panitia SABANUSA sudah berlangsung hingga larut malam. Bukan rapat biasa — melainkan rapat penuh perdebatan seru tentang bagaimana menggelar perayaan kemerdekaan yang meriah sekaligus aman di tengah situasi pandemi yang belum sepenuhnya reda. Satu per satu anggota melempar ide, satu per satu pula dibahas risiko dan solusinya. Hasilnya: acara tetap jalan, tapi dengan aturan yang jelas.

Pagi hari tanggal 17 Agustus 2021, lapangan RW 03 sudah dipenuhi warga yang antusias. Bendera merah putih berkibar gagah di mana-mana. Anggota SABANUSA yang bertugas sebagai panitia sudah hadir sejak subuh — mengatur barisan, memasang tali batas area lomba, menyiapkan perlengkapan, dan memastikan setiap sudut area telah disemprot disinfektan. Tidak ada yang mengeluh lelah. Tidak ada yang datang terlambat. Semua paham: hari ini adalah hari yang tidak boleh gagal.

🏁 Daftar Lomba yang Diselenggarakan

  • Balap karung — kategori anak-anak dan dewasa
  • Tarik tambang — beregu campuran antar RT
  • Makan kerupuk — lomba paling banyak mengundang tawa
  • Melempar dan menangkap telur berpasangan
  • Lomba panjat pinang — puncak acara yang paling dinanti
  • Upacara bendera khidmat di pagi hari
  • Pentas seni rakyat dan pembagian hadiah di sore hari

Lomba balap karung menjadi pembuka yang langsung mencuri tawa. Puluhan anak-anak melompat riang di dalam karung goni, jatuh bangun, bangkit lagi — persis seperti semangat bangsa ini yang tidak pernah menyerah. Para orang tua berteriak dari pinggir lapangan mendukung anak mereka masing-masing, sementara anggota SABANUSA berjibaku memastikan lintasan tetap aman dan tertib.

"Di sini tidak ada yang kalah sungguhan. Semua yang berlomba, semua yang menonton, semua yang berpeluh mengurus acara — kita semua sedang merayakan satu hal yang sama: syukur bahwa kita masih bisa berdiri di atas tanah ini, bebas, merdeka."

Puncak keriuhan terjadi saat lomba makan kerupuk digelar. Tawa tidak bisa ditahan ketika peserta — dengan tangan terikat di belakang — berusaha menggigit kerupuk yang berayun di tali. Angin yang bertiup membuat kerupuk semakin susah ditangkap mulut, dan ekspresi-ekspresi lucu para peserta menjadi hiburan tersendiri bagi ratusan penonton yang menonton dengan mata berbinar.

Sore harinya, panjat pinang menjadi penutup yang dramatis. Batang pinang yang sudah dilumuri oli mengkilat di bawah sinar matahari sore. Satu per satu tim mencoba, satu per satu pula tergelincir jatuh disambut tawa dan tepuk tangan penonton. Ketika akhirnya tim pemenang berhasil meraih hadiah di puncak, sorak-sorai meledak memenuhi lapangan — sebuah perayaan kecil yang terasa jauh lebih besar dari ukurannya.

Ketika matahari mulai turun dan acara resmi ditutup, seluruh anggota SABANUSA yang bertugas sebagai panitia berkumpul untuk bersih-bersih bersama. Mereka kelelahan, beberapa ada yang kulitnya terbakar matahari, dan hampir semua sudah tidak punya energi untuk berbicara banyak. Tapi di wajah mereka ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan: kebanggaan. Kebanggaan karena di hari yang paling bersejarah bagi bangsa ini, mereka tidak hanya hadir sebagai penonton — melainkan sebagai penggerak, sebagai panitia, sebagai pemuda yang memastikan semangat kemerdekaan itu nyata dan bisa dirasakan oleh seluruh warga RW 03.

Itulah esensi SABANUSA: bukan hanya merayakan kemerdekaan dengan bendera di tangan, tapi dengan tangan yang bekerja nyata untuk kebahagiaan bersama.

Kembali ke Kegiatan